Text
Kisah Sedih Sahabat Pena
tiba-tiba tenggorokan Aldin tercekat. Ibu dan Mbak Tanti pun seakan terpaku di tempat duduk mereka. Malam itu mereka bertiga menonton berita Jogja yang dilanda gempa di televisi. Tampak di layar televisi reruntuhan rumah berupa tumpukan batu bata tak beraturan. Kayu-kayu penyangga atap yang membujur ke segala arah mata angin membuat pemandangan semakin berantakan. "Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun..." desis Aldin, ibu dan mbak Tanti hampir bersamaan. Gambar di layar pun berganti. Tampak di layar televisi para korban gempa terbaring berderet-deret. Tempatnya sembarangan. Di rumah sakit, di puskesmas, di jalan jalan ataupun di lapangan. Luka tertimpa reruntuhan rumah diderita para korban di kaki, di tangan bahkan di kepala mereka.
Tidak tersedia versi lain