Text
Konsep Dzikir Menurut Al-Quran
kita sering beranggapan bahwa kebahagiaan akan datang dengan sendirinya tatkala kemakmuran dan kesejahteraan materi telah berada dalam genggaman kita. Kita juga sering mengira bahwa ketenangan akan menjelang saat apa yang kita inginkan telah ada dalam dekapan. Benarkah demikian kenyataannya?
Tidak..., tidaklah demikian yang sebenarnya! Cobalah lihat kehidupan masyarakat modern yang penuh hingar bingar kemewahan dan bergelimang kekayaan, adakah mereka bahagia menikmati kehidupannya? Lihatlah masyarakat Amerika dan Eropa Barat yang dikenal sebagai simbol masyarakat modern dengan segala pencapaian materialnya, adakah mereka merasakan bahagia dan damai dengan semua yang ada di dalam diri mereka?
Tidak..., sekali lagi tidak! Mereka justru merasakan bahwa kehidupan modern yang penuh kemewahan dan keberlimpahan tak mampu menjawab seribu satu macam problematika. Dengan segala kekayaan dan kemakmuran, mereka justru merasakan gelisah dan hampa. Ada sesuatu yang hilang dari mereka; ketenangan dan kedamaian, itulah dua hal yang terasa amat langka dalam kehidupan mereka.
Manusia memang tidak hanya raga semata, tetapi ia juga mempunyai jiwa yang butuh siraman "air ketenangan" dan "embun kedamaian", hal mana dua hal ini tidak dapat dipenuhi dengan sesuatu yang bersifat materi semata. Agama itulah yang dibutuhkan jiwa. Dzikrullah, itulah yang dapat memadamkan dan menenangkan "gelegak kegelisahan" yang mendidih dalam hati mereka. "Ingat, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram". (Q.S. Ar-Ra'd: 28)
Tidak tersedia versi lain